Beranda > Artikel, Google, Internet, mimpi > Google Apps Engine vs Amazon AWS

Google Apps Engine vs Amazon AWS

Untuk rekan-rekan programmer web yang masih nangkring membayar  untuk sekedar hosting aplikasi sederhana, mungkin GAE (Google Apps Engine ) masih membuat alergi karena masih support hanya bahasa Python dan bandwitdh yang terbatas sampai 5 juta pengunjung per bulan. Belum lagi masalah “lock in” atau penjara data yang membuat aplikasi anda mungkin sulit dipindah ke hosting lain selain GAE).

Tetapi buat kita-kita yang masih coba-coba, GAE sebenarnya menawarkan hal luar biasa jika dibandingkan Amazon AWS.

gae

Pertama,

Terbatas tapi sebenarnya ini besar artinya buat pemula, Mengapa? Karena ini gratis. Jika anda punya situs menarik dan mampu menarik 5 juta pengunjung per bulan dan anda memasang Adsense di situs anda, mungkin anda bisa memperoleh minimal  $3000 per bulan, tanpa perlu keluar biaya.  Coba anda bandingkan dengan situs Seth Godin yang bertraffic 3 juta pengunjung per bulan.

Kedua,

Dengan AWS anda harus expert dalam konfigurasi Web Server kalau anda ingin situs anda tidak dijebol cracker. Ini butuh waktu tersendiri untuk mempelajarinya. Dengan GAE, anda nggak perlu pusing dengan itu semua. Masalah Iptables, Load Balancing, dan scaling ditangani secara otomatis oleh GAE, anda cukup berkonsentrasi pada ide dan logika aplikasi anda.

Ketiga,

Diatas 5 juta pengunjung per bulan, anda bisa membeli resources server di Google dengan tarif yang kira-kira setara dengan AWS. ($0.10 per CPU core hour,  $0.10 per GB bandwidth incoming, $0.12 per GB bandwidth outgoing, $0.15 per GB of data stored by the application per month, dan $0.0001 per email recipient for emails sent by the application)

Keempat

Masalah bahasa python yang umumnya menjadi kendala utama, sebenarnya jika kita pikirkan ulang: pada saat orang Amerika belajar bahasa python dan pernak-pernik GAE, dan kita belajar juga. Bukankah itu artinya kita berada pada Time Frame yang sama dengan orang barat ? Dan bukankah kita sering tertinggal dan merasa tertinggal oleh kemajuan mereka ? Bukankah ini berarti merupakan kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang setara ? Tinggal bagaimana kita, apakah lebih kreatif, apakah lebih keras bekerja ? Jika kita membeli teknologi GSM atau CDMA misalnya, maka kita sebenarnya menggunakan teknologi yang sudah ketinggalan zaman karena orang barat telah mengembangkan teknologi baru yang lebih canggih dan lebih advanced, untuk kemudian suatu hari ….. dijual lagi ke kita,……….. dan mereka mengembangkan teknologi baru lagi diatas beban biaya kita. Terus menerus begitu.

Dengan Google dan Open Web Strategy mereka, maka seorang programmer kreatif dan lugu, bisa mencapai kemajuan yang melebihi rekan-rekan mereka, programmer di belahan dunia maju. Karena kita berada di waktu yang sama dan kesempatan yang sama untuk belajar sesuatu yang juga masih dalam taraf pengembangan.

  1. Desember 14, 2009 pukul 8:43 pm

    google app engine memang mantap!

    saya sudah coba porting kode @tuitwit dr php ke python, dan hasilnya?
    ngebut!

    highly recommended buat web developer yg sudah kehabisan akal ketika proyek mereka berurusan dengan masalah biaya,big traffic dan non commercial purposes🙂

    http://m.tuitwit.com
    Indonesian Twitter Mobile Web Client

    UO: aha ! congrats fren !

  2. April 3, 2010 pukul 10:39 am

    Saya juga sedang mencoba dan belajar menggunakan Google App Engine🙂 Untuk aplikasi CMS Python ada nggak ya? Vosao bagus sih, tapi pake Java.

    UO: kayaknya pernah baca tentang CMS di Python tapi lupa dimana, coba digugle aja yach ,trims.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: