Beranda > Google, teknologi > Strategy Google vs Microsoft (5)

Strategy Google vs Microsoft (5)

Bersamaan dengan ramainya berita tentang ancaman Rupert Murdoch untuk menarik (delisting) semua link dalam situs-situs jaringan Fox dari index Google, muncul pula berita tentang inisiatif Microsoft untuk membayar jaringan Fox News untuk link-link mereka bisa ditampilkan dalam index Bing Search Engine.

Padahal, ambillah contoh ini. Fox News sendiri mengambil berita dari blog tetangga -secara gratis- yang Google juga dengan mudah bisa mengindexnya. Sehingga rasionalitas di balik ancaman Rupert Murdoch ini memang lemah adanya. Banyak juga berita Fox News sendiri yang tidak original/eksklusif.

Bukan merupakan hal aneh karena Microsoft dan Google memang bersaing untuk menancapkan kaki di masa depan dalam bisnis software dan internet. Setidaknya sejak Bill Gates (yang saat itu masih duduk sebagai Chairman Microsoft) mendadak memanggil para petinggi Microsoft untuk membahas iklan lowongan kerja Google yang mencari enginer-enginer yang ahli di bidang operating system.

“Anak-anak ini tidak hanya sekedar membuat search engine, mereka sedang membuat pesaing baru buat kita…”, demikian ungkap Bill Gates dengan nada tinggi.

Sejak saat itu, Microsoft mulai menempatkan Google sebagai salah satu perusahaan pesaing yang dimonitor terus menerus tiap langkahnya. Setiap langkah -kecil maupun besar- akan direspond secara setara oleh Microsoft.

Yang menarik, strategy head to head Microsoft terhadap dengan Google ternyata acap kali bertepuk sebelah tangan. Banyak langkah Google yang tidak didasari persaingannya dengan Microsoft. Nampaknya Google lebih percaya bahwa Microsoft is the past, and we, Google, is the Future. (So we are not in the same time frame).

Ambil contoh ketika Google meluncurkan Chromium, esoknya Ballmer membalas dengan perang psikologis bahwa Windows7 telah sukses di pasaran melebihi dari versi-versi Windows sebelumnya. Namun apakah respon Google ? No-thing. Google tidak membalas, karena memang Chromium diluncurkan bukan untuk menyaingi Windows. Google membuat Chromium karena Google percaya masa depan membutuhkan operating system yang open source dan semua berbasis web. Karena itu porsi/peran operating system dalam Chromium memperoleh tempat sangat minimal (boot maksimal 7 detik, hampir secepat menghidupkan TV). Google lebih mementingkan platform ketimbang kernel. Seluruh platform Chromium dibuat berbasis web.

Jadi Chromium dibuat untuk mengisi ceruk kecil dalam bisnis software yang di kemudian hari diharapkan akan membesar. Segmen pasar orang yang mengutamakan kecepatan, komunikasi, dan mobilitas di atas fungsi komputing yang berat adalah pasar dari Chromium. Anda tidak bisa mengharapkan Chromium untuk mengerjakan pekerjaan desain grafis berat atau mengkompile program baru anda. Tetapi kalau anda ingin berfacebook ria, sekedar surfing untuk cek email atau nonton youtube, maka Chromium dengan cepat dan tepat akan menyajikannya untuk anda.

Saat ini strategy Microsoft membentur Apple di segmen atas (premium)

dan menabrak Google di segmen bawah (low cost). Keduanya bekerja efektif membuat datar pendapatan Microsoft yang menembak segmen pasar yang berada di antaranya.

Update:

Google meluncurkan Living Stories

  1. Candra Wiguna
    Januari 12, 2011 pukul 9:45 am

    Google vs Windows.??
    Google lah pemenangnya..
    Saya ga yakin google hanya mengandalkan os yang full berbasis web..
    Ingat google masih punya android, saya yakin salah satunya (chrome or android) akan dikembangkan menjadi os desktop..

  2. Ruben
    Januari 27, 2011 pukul 12:42 pm

    To some, the Chrome OS project represents Google’s identity crisis—and the inability of its top decision-makers to marshal resources efficiently and kill redundant projects. After all, the company already has a successful operating system—Android—and the two projects don’t mesh. Andy Rubin’s software requires applications to be downloaded and run from a device’s local memory. Chrome, on the other hand, runs applications that sit in the cloud and use a new Web standard called HTML5. Rubin and Pichai “both have huge projects that are being propelled in part because Google values their talent,” says Danny Sullivan, editor of the blog Search Engine Watch. “At this point, though, you’ve got to keep scratching your head. Why do they still have Chrome?”

  1. November 26, 2009 pukul 1:11 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: