Arsip

Posts Tagged ‘HTML5’

Video Bagus Tentang HTML5 di Sports Ilustrated Terbaru

Mei 21, 2010 Tinggalkan komentar

Datangnya era internet di wilayah penerbitan majalah mendatangkan pilihan yang sulit bagi editor majalah untuk merangkum berita menarik pada media yang berbeda karakterisitiknya.

Namun Sports Ilustrated telah membangun web site yang berjalan di Android Market yang menakjubkan, seperti terlihat pada video berikut:

Tak cukup dengan image yang bisa di klik (yg ternyata video) Sports ilustrated juga menampilkan format periklanan baru.

Apakah itu ? Aplikasi web sebagai iklan interaktif.

Misalnya dalam video tsb dicontohkan mengenai kamera untuk memotret olahragawan tsb ditampilkan sebagai link untuk menjalankan sebuah aplikasi web. Dimana dengan aplikasi tersebut, seorang pengunjung bisa menukar lensa dengan pilihan lensa yang tersedia. Dan langsung melihat hasilnya jika foto tersebut diambil dengan lensa tertentu. Baik dengan zoom maupun tidak. Menakjubkan :).

Kemudian tersedia link menuju Google Maps yang akan menunjukkan dimana bisa membeli kamera tersebut lengkap dengan perbandingan harganya.

Aplikasi Web dengan HTML5 sebagai alat untuk periklanan ! Ide bagus.

Iklan

Dua Pukulan Telak Buat Google

Maret 17, 2010 3 komentar

Kali ini dua berita menunjukkan bahwa Google telah tertinggal dalam perlombaan inovasi. Motto “Don’t be Evil” mungkin malah membuat para inovator berpikir “Apakah Google sendiri telah menjalankan motto tersebut ?” dan ini memotivasi mereka untuk bisa lepas dari cengkraman Google.

Apakah strategy open web bukan strategy Google untuk memantapkan posisinya saja? Agar inovasi tidak terjadi diluar kekaisaran Google, namun sebaliknya terjadi dalam kontrol Google? Jangan dilupakan bahwa Google adalah perusahaan yang terdaftar di bursa saham. Dan bursa saham menuntut semua perusahaan yang terdaftar disana untuk terus tumbuh stabil beberapa persen setahun agar terus terdapat “daya tarik”. Pada gilirannya agar terus terjadi penumpukan modal ke kantong Google.

Namun hukum alam juga terjadi, bukankah perusahaan lain di bursa saham tersebut juga harus terus tumbuh stabil ? Yang pada gilirannya akan memunculkan “perang” diantara mereka sendiri ?

Nampaknya inilah yang tengah terjadi.

1. Microsoft melalui tangan Facebook berhasil mengalahkan traffik Google untuk pertama kalinya diluar event musiman seperti natal dan tahun baru. Minggu kemarin Hitwise melaporkan facebook berhasil melewati Google untuk unique visitor di kandang mereka sendiri yakni USA. Boom!

2. Adobe menempuh langkah flangking (menghindar) untuk mendisable dominasi Google: peer to peer networking. Jika Google berusaha merangkul sebanyak mungkin pelaku bisnis internet untuk bergabung dalam Open Web strategynya, maka Adobe memutar langkah lebih jauh: merangkul semua pengguna internet dengan platform teknologinya. Teknologi Real-Time Media Flow Protocol (RTMFP) pada Adobe Stratus membuka peluang untuk peer to peer networking sehingga PC pengguna internet bisa secara langsung berhubungan dengan efisien. Tanpa server terpusat.

Dan Boom! Chatroulette.com membuktikan teknologi Adobe telah siap untuk test drive dengan trafik yang membumbung 12.000% tiga bulan terakhir. Padahal Adobe Struts masih berstatus Beta. Eksekusi yang tepat [atau kebetulan] dari situs ini menunjukkan HTML5 yang sangat lambat peluncurannya memang aneh. Tahun 2012 nanti masih belum terdapat fitur peer to peer networking ini. Yang ada hanya RTMP (real time messaging platform). Sebuah teknologi yang masih membutuhkan server terpusat.

Kok Google yang penuh insinyur top itu bisa kalah cepat dengan Adobe sebuah perusahaan yang lebih kecil pendapatannya?  Apa yang ditunggu ? Ini membuat kita bertanya, apakah agenda Google sebenarnya ? Apakah Google sengaja memperlambat perkembangan Open Web sampai ia kuat secara pasar di tahun 2012? Dan apakah Google akan melakukan hal yang sama terhadap setiap inovator potensial ? Diakuisisi kemudian di “cerna”?

Tapi jangan khawatir … Google telah menyiapkan Google Buzz sebagai pesaing facebook, sayang terlambat. Dan sampai saat ini Google masih membisu terhadap langkah Adobe peer to peer networking. Google nampaknya tak mungkin melepaskan pola sentralistiknya untuk mampu  mengembalikan internet kepada tujuan asalnya: menghubungkan pengguna secara langsung. Tanpa pretensi beriklan bukan?. Jadi, kemanakah perginya makna “Don’t be evil” ?

Ouch!

Update: Google diberitakan telah membuat kontak dengan pendiri chatroulette.com. Andrey menyatakan tidak akan melepaskan kepemilikan situsnya kepada siapapun, namun ia memikirkan untuk menerima sebagian kepemilikan saham atas situsnya.

Update 26/3/2010: Html5 mulai memasukkan peer to peer flow connection dalam specnya pada tanggal 22/3/2010 yang lalu.

YouTube Mulai Tinggalkan Adobe Flash

Januari 21, 2010 2 komentar

Bergabung dalam manajemen Google membuat Youtube mengikuti strategi Open Web dari Google. Setidaknya ini tercermin dalam peluncuran testtube, yakni subset domain Youtube yang diperuntukkan untuk menguji HTML5 video tag support.

Karena masih testing, maka baru hanya Chrome, Safari versi 4 keatas, dan IE yang dipasangi Chrome Frame yang didukung. Sedangkan codec video yang ditransmisikan baru terbatas pada format H.264. Ogg Theora belum didukung oleh youtube. Itu artinya firefox dan opera belum bisa dipergunakan dalam masa testing ini karena baru support video tag Ogg Theora. 😦 lemes deh ..

Untuk ke depannya youtube menjanjikan support codec yang lebih luas sehingga lebih banyak browser bisa dipergunakan. Youtube harus mengkompile ulang seluruh videonya agar bisa support Ogg Theora.

Setidaknya ada 2 hal berbeda dari eksperimen youtube ini dibandingkan youtube default sekarang:

1. tampilan awal tiap video ada logo HTML5

2.  kalau di klik kanan, yang muncul pop up window default browser, jadi bukan lagi pop up Adobe Flash Player.

Update 22 Januari 2010:

– Selain meluncurkan labs produk berupa HTML5 support, Youtube juga meluncurkan serangkaian perbaikan untuk situsnya. Diantaranya, mulai menanggalkan huruf “R” pada kata FREE menjadi “FEE” untuk beberapa video tertentu, terutama video clip musik. Juga mengubah pola rating video dari 5 stars rating ke pola sesederhana Like Or Not. 

– Youtube juga melakukan testing terhadap antarmuka youtube yang baru. Setelah feather style yang ringan sukses diujicoba tempo hari, sekarang perubahan lebih besar dilakukan lagi. Yakni mengubah pola navigasi kita di dalam situs Youtube. Ingin mencoba ? Coba disini.

– Meskipun HTML5 sudah diujicobakan di Youtube, namun butuh waktu yang lama untuk menyingkirkan standar tertutup Adobe Flash.

– sehari setelah youtube, vimeo juga turut meluncurkan support untuk HTML5.

Google Mempercepat Koneksi HTTP

November 13, 2009 1 komentar

Internet yang lebih cepat adalah dambaan seluruh pengguna internet. Setelah otak-atik HTML5 yang didesain akan semakin kecil ukuran filenya (coba lihat source HTML Google.com yang semakin kecil dari sebelumnya 8.7KB sekarang menjadi 6.9KB), maka sekarang giliran protokol HTTP yang coba dioverhaul oleh Google.

chromium

Dalam eksperimen terakhirnya, enginer Google mencoba membangun protokol yang lebih cepat dari HTTP. Dan dalam percobaan tersebut bisa dicapai percepatan maksimal sampai 65% dibandingkan protokol HTTP. Dengan demikian target penghematan load time s/d 2 kali lebih cepat dari HTTP telah dicapai dalam lab Google.

Kode untuk project ini adalah SPDY atau dibaca ‘Speedy’. Jadi ilmuwan Google membuat dari awal sebuah protokol setara HTTP yang lebih cepat yang didasarkan pada 3 pendekatan utama:

1. multiplexed streams, yakni fitur yang membuat protokol SPDY akan mampu dilewati banyak-bahkan unlimited paket data yang tidak berasal dari satu proses client-server yang sama. Jadi tidak menunggu satu proses selesai dikirim dan diproses server, client sudah bisa mengirim request yang lain. Dan sebaliknya.

Pada protokol awal HTTP, terdapat delay 500ms per request untuk diselesaikan barulah request berikutnya bisa terkirim (Single request per connection). Sebelum project ini ada, produsen web browser mengatasi masalah delay ini dengan membuka banyak koneksi sekaligus ke web server. Namun hal ini kerap kali dibatasi sendiri oleh web server untuk menghindari overload koneksi atau DDOS.

Begitu pula dengan HTTP Pipelining yang membolehkan multiple request dalam satu koneksi TCP-IP, namun jika satu request mengalami masalah dalam perjalanannya akan menghambat request berikutnya. Hal ini berbeda dengan pendekatan SPDY yang bersifat multiple access back forward.

Dengan proposal Google ini, tidak diperlukan lagi banyak koneksi ke server yang membuat server terlampau sibuk menghandle koneksi TCP-IP. Lagi pula jika satu client bisa atau boleh membuka banyak koneksi TCP-IP ke suatu web server, maka ini membuka peluang DDOS terhadap web server tersebut.

2. request prioritization

3. HTTP header compression dan no redundant HTTP Header

Selain mengkompresi header (yang membuat inisiasi situs lebih cepat), HTTP header yang tidak perlu dikirim ulang tidak akan dikirim lagi. Headers seperti ‘User-Agent’, ‘Host’, dan ‘Accept*’ umumnya akan tetap sepanjang koneksi sehingga tidak perlu dikirim ulang.

———-

Percobaan Google ini ditujukan tidak untuk menggantikan HTTP, melainkan untuk menjadi alternatif yang bersandingan dengan HTTP. Sehingga browser chrome dari Google nanti akan otomatis memilih menggunakan protokol mana yang disupport suatu web server.

Beberapa artikel yang berkaitan ada di link ini.

Update:

Untuk mencoba protokol SPDY ini hanya diperlukan browser Chrome dari Google sendiri. Namun krn masih dalam lab Google, belum ada web server yang mensupportnya.