Arsip

Posts Tagged ‘web’

Pengguna Social Network Ternyata Bukan ABG

Februari 28, 2010 1 komentar

Sebuah penelitian mengungkapkan profil pengguna social network baik itu facebook, myspace, bebo, dll ternyata didominasi orang-orang berusia bukan ABG, rata-ratanya adalah 37 tahun ! Facebook: 38 tahun.

Jadi hanya 24% pengguna social network yang berusia di bawah 25 tahun. Sisanya, 76% berusia diatas 24 tahun.

a

Kesimpulannya, social network sebenarnya berisi orang-orang berusia non ABG yang berkomunikasi antara mereka. Social network lebih berfungsi sebagai ajang komunikasi daripada ajang ekspresi diri.

Iklan

Strategy Google vs Microsoft (5)

November 25, 2009 3 komentar

Bersamaan dengan ramainya berita tentang ancaman Rupert Murdoch untuk menarik (delisting) semua link dalam situs-situs jaringan Fox dari index Google, muncul pula berita tentang inisiatif Microsoft untuk membayar jaringan Fox News untuk link-link mereka bisa ditampilkan dalam index Bing Search Engine.

Padahal, ambillah contoh ini. Fox News sendiri mengambil berita dari blog tetangga -secara gratis- yang Google juga dengan mudah bisa mengindexnya. Sehingga rasionalitas di balik ancaman Rupert Murdoch ini memang lemah adanya. Banyak juga berita Fox News sendiri yang tidak original/eksklusif.

Bukan merupakan hal aneh karena Microsoft dan Google memang bersaing untuk menancapkan kaki di masa depan dalam bisnis software dan internet. Setidaknya sejak Bill Gates (yang saat itu masih duduk sebagai Chairman Microsoft) mendadak memanggil para petinggi Microsoft untuk membahas iklan lowongan kerja Google yang mencari enginer-enginer yang ahli di bidang operating system.

“Anak-anak ini tidak hanya sekedar membuat search engine, mereka sedang membuat pesaing baru buat kita…”, demikian ungkap Bill Gates dengan nada tinggi.

Sejak saat itu, Microsoft mulai menempatkan Google sebagai salah satu perusahaan pesaing yang dimonitor terus menerus tiap langkahnya. Setiap langkah -kecil maupun besar- akan direspond secara setara oleh Microsoft.

Yang menarik, strategy head to head Microsoft terhadap dengan Google ternyata acap kali bertepuk sebelah tangan. Banyak langkah Google yang tidak didasari persaingannya dengan Microsoft. Nampaknya Google lebih percaya bahwa Microsoft is the past, and we, Google, is the Future. (So we are not in the same time frame).

Ambil contoh ketika Google meluncurkan Chromium, esoknya Ballmer membalas dengan perang psikologis bahwa Windows7 telah sukses di pasaran melebihi dari versi-versi Windows sebelumnya. Namun apakah respon Google ? No-thing. Google tidak membalas, karena memang Chromium diluncurkan bukan untuk menyaingi Windows. Google membuat Chromium karena Google percaya masa depan membutuhkan operating system yang open source dan semua berbasis web. Karena itu porsi/peran operating system dalam Chromium memperoleh tempat sangat minimal (boot maksimal 7 detik, hampir secepat menghidupkan TV). Google lebih mementingkan platform ketimbang kernel. Seluruh platform Chromium dibuat berbasis web.

Jadi Chromium dibuat untuk mengisi ceruk kecil dalam bisnis software yang di kemudian hari diharapkan akan membesar. Segmen pasar orang yang mengutamakan kecepatan, komunikasi, dan mobilitas di atas fungsi komputing yang berat adalah pasar dari Chromium. Anda tidak bisa mengharapkan Chromium untuk mengerjakan pekerjaan desain grafis berat atau mengkompile program baru anda. Tetapi kalau anda ingin berfacebook ria, sekedar surfing untuk cek email atau nonton youtube, maka Chromium dengan cepat dan tepat akan menyajikannya untuk anda.

Saat ini strategy Microsoft membentur Apple di segmen atas (premium)

dan menabrak Google di segmen bawah (low cost). Keduanya bekerja efektif membuat datar pendapatan Microsoft yang menembak segmen pasar yang berada di antaranya.

Update:

Google meluncurkan Living Stories

Trend Blog Telah Bergeser

November 18, 2009 5 komentar

Laporan terbaru dari PostRank menyebutkan terjadinya pergeseran dalam 3 tahun terakhir dalam dunia blogging.

Prosentase orang yang berkunjung langsung ke situs-situs blog dikalahkan oleh prosentase orang yang membaca isi blog secara offsite. Dengan kata lain, lebih cepat pertumbuhan rss feed dll dibanding kunjungan langsung.

Dua faktor yang menyebabkan hal ini ialah :

1. pesatnya situs social yang memiliki rss feed reader. Misalnya Google Reader, facebook apps, friendfeed dll.

2. pesatnya situs social seperti facebook dll membuat tersitanya waktu online para pembaca blog.

Hal menarik juga diungkap oleh postrank bahwa kunjungan ke situs bookmarking seperti digg, delicious, dan reddit juga mengalami penurunan namun voting justru semakin meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa trend voting terjadi secara offsite semakin digemari.

Kami meyakini meningkatnya faktor gadget/mobile device juga menjadi faktor yang mempengaruhi penurunan kunjungan ke blog ini. Mungkin orang malas untuk mengunjungi situs dengan layar yang tak lega :).

Akibatnya jelas: menurunnya pendapatan iklan para blogger dan meningkatnya pendapatan iklan pada mobile devices. Nah dengan tepatnya Google telah mengakuisisi Admob beberapa waktu yang lalu.

Aplikasi Web dengan Google Apps Script

Agustus 20, 2009 1 komentar

Mirip dengan VB script pada aplikasi Word dan Excell, Google meluncurkan Google Apps Script agar pengguna docs.google dan spreadsheet.google bisa mengotomatisasi pekerjaan mereka, misalnya membalas email secara otomatis dengan respon tertentu dan programming sederhana.

pro5

Spreadsheet Google dikenal telah mampu menggantikan fungsi Excell secara online dengan (salah) satu kekurangannya yakni belum bisa membuat ‘macro’. Dengan hadirnya Google Apps Script ini maka semakin lengkaplah Spreadsheet.Google sebagai aplikasi online yang penting sebagai bagian dari Google (Online) Operating System.

Kedepannya, untuk membuat aplikasi sederhana (menerima data dari user, mengkalkulasi respon, dan menampilkan respon akan seperti membuat aplikasi macro di dalam excell. Asyik bukan ?

Sebagaimana telah kita ketahui, Spreadsheet Google telah bisa dipakai untuk membuat form. Namun kita hanya bisa menampilkan summary atau hasil dari isian form tersebut pada spreadsheet.google. Tentu kita ingin membuat sesuatu secara otomatis dengan hasil tersebut bukan? Nah disinilah letak fungsi Google Apps Script: mengakalkulasi hasil isian form dan menampilkan respon secara otomatis kepada user.

Ke depannya kami yakin ini akan membuat banyak pengguna internet  seperti kita bisa membuat aplikasi web yang didevelop tanpa programming yang berat. Dan ini berarti satu langkah lagi bagi Google untuk menjadi defakto raja Sistem Operasi Internet.

Strategi Google vs Microsoft (3)

Agustus 6, 2009 2 komentar

Senada dengan tulisan kami sebelumnya mengenai strategi Google vs Microsoft, dua berita terakhir mengenai deal barter Yahoo-Microsoft yang mengindikasikan kecenderungan Microsoft untuk ‘bergabung’ dengan internet (dan bukan melawannya), lalu berita Chrome OS terbitan Google dan akuisisi Google terhadap On2 technologist sebagai ‘pilihan mandiri’ terhadap perkembangan internet  menunjukkan indikasi bahwa Google tengah berproses menuju percepatan open web standard.

Karena Microsoft bergabung dengan internet, Google dan strategi open web adalah jawaban atas masa depan internet. Kami berkeyakinan, sepanjang Google berpihak kepada open web maka revenue mereka akan terus tumbuh seiring pertambahan pengguna internet.

Apakah teknologi kompresi video yang dibeli Google dari On2 akan di-opensource-kan ? Tentu belum tentu :). Namun setidaknya hal ini mengindikasikan bahwa Google akan terus memperbaiki kualitas video youtube yang dianggap jelek untuk video high definition  dan perlahan tapi pasti melepas ketergantungan decoder video flash tertutup dari Adobe yang membuat Google hrs membayar 5 juta dollar setiap tahunnya (Youtube nampaknya menggunakan teknologi kompresi H.264 atau variasinya). Yang menarik, dengan pembelian On2 ini, sekarang Adobe malah menjadi client Google, karena ternyata Adobe membeli lisensi teknologi On2 untuk kompresi video flash.

Jika Youtube menggunakan teknologi On2 terbaru untuk video flashnya, maka penghematan bandwith secara rata-rata adalah s/d 40%.

pro2

Dan apakah Google tidak merugi dengan membeli On2 sebesar 100 juta dollar atau 20 kali lipat pengeluarannya di youtube? Mungkin tidak kalau melihat bahwa jumlah lisensi terjual dari teknologi On2 adalah sebesar 2 milyar licensi (jadi Google kulakan 0,05 dollar per lisensinya). Rupanya licensi On2 tidak hanya ada di web video, melainkan juga pada mobile devices. Nampaknya Google malah diuntungkan.

Selain Adobe, pelanggan On2 yang lain adalah Sun Microsystems for Java-FX, Skype for video conferencing dan Move Networks for delivering high definition web TV (HDTV di web).

Catatan penting lainnya adalah berita mengenai testing support HTML5 pada browser Chrome yang menjadi awal dari penerapan video tag pada elemen HTML untuk menjadi alternatif terhadap standar video tertutup flash.

Way to go Google !

Layout Baru Google

Mei 17, 2009 2 komentar

Google sedang testing layout baru untuk mengantisipasi twitter ?

Nampaknya terinspirasi atau tidak bisa lepas dari format windows explorer yg menggunakan sisi kiri untuk kemudahan penjelajahan.

Asyik juga bisa mengetahui recent result dari satu kata kunci tertentu. Menarik juga opsi timeline untuk tahu sejarah tertentu yang dibagi per enam bulanan dan bulanan.

Paling menarik buat kami adalah opsi “more text” dimana cuplikan dari web asal diperpanjang dua kali lipat biasanya.

Lebih cepat menelusuri web kalau begini. 🙂

LayoutGoogle

Contoh “more text” :

More Text Google

asyik bukan ?

Akhirnya Google App Engine Support Java !

April 8, 2009 Tinggalkan komentar

Untuk 10.000 developer java yang beruntung, Google memberikan kesempatan untuk menjadi tester penerapan Java di App Engine. Setelah sempat mengecewakan dengan meluncurkan Fortran77 yang dianggap ketinggalan jaman, Google akhirnya, sesuai jadwal, meluncurkan Java sebagai Run Time Language mendampingi Python yang telah lebih dulu disupport. Hurah !

javaappengine

Berarti Om Malik dengan sumber internal di Google tidak salah. Kami yang keliru  dengan mencatat Om Malik terkecoh. :). (Maaf ya Om … maklum anak baru kurang diajar)

Support Java di App Engine tidak terbatas pada Java Library namun termasuk juga Java Tooling seperti Eclipse IDE Plugin. Sementara ini tidak semua library disupport, beberapa yang bisa disebutkan ialah javax.mail, javax.cache, dan java Servlet API.

Dan seperti diperkirakan Om Malik, engine yang mirip dengan Android memang diterapkan di edisi ini. Untuk mengatasi masalah pengaplingan resources oleh Java Virtual Machine, maka sistem sandboxing mirip di engine Android (Dalvik) diterapkan disini. Meskipun tidak dibuka untuk umum, namun besar kemungkinan JVM yang ada di App Engine ini, adalah JVM yang sama di Android.

Satu hal yang pasti: dengan pengumuman Google App Engine support Java ini, maka Java Hosting yang terkenal mahal akan kebakaran jenggot. Untuk yang termurah dengan resources yang sangat terbatas (minimal), Java Hosting menerapkan tarif umumnya $5 per bulan !. Sedangkan App Engine (jk tidak ada perubahan) support s/d 5 juta visitor per bulan secara GRATIS.

Kekurangannya ? Tentu ada, kurang fleksibel karena hanya support matriks-matriks dasar. Cron support, database import, dan akses ke http di balik firewall baru saja diluncurkan.

Kalau kami diapprove, kami akan post lagi disini.